Hafalan Shalat Delisa

Sabtu, 01 Desember 2012




                                                    SUCI AFRIDILA
                                           XI.A.1
             R-SMA-BI-NEGERI 3 TELADAN BUKITTINGGI
                           TAHUN PELAJARAN 2012/2013

A.     RESENSI
a.    Judul                          : Hafalan Shalat Delisa
b.    Pengarang                   : Tere Liye
c.    Penerbit                     : Jakarta: Penerbit Repubika
d.    Tahun Terbit              : 2008
e.    Jumlah Halaman : vi+368 halaman 20.5 x 13.5 cm
f.    Cetakan                      : XI, Februari 2010

B.     SINOPSIS
Novel Hafalan Shalat Delisa merupakan hasil imajinasi dari seorang Tere Liye yang begitu mengagumkan. Menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Delisa yang oenuh keceriaan sebelum tsunami merenggut semua yang ia miliki. Melalui buku ini Tere Liye hendak meyentil sebagaian orang yang selama ini beribadah hanya karena sebuah hadiah atau pujian.
Para penikmat novel atau pun orang biasa akan beranggapan novel ini begitu indah baik dari segi tata bahasa maupun dari segi pengaturan kejadiannya sendiri. Meminjam istilah dari Buya Hamka “Yang pergi ke sana adalah jiwaku, bukan fisikku…” dan Tere Liye berhasil menghadirkan hasil dari imajinasinya ketika menyaksikan berita berita tsunami di televisi menjadi sebuah novel yang banyak memberi  inspirasi.
Dalam novel Hafalan Shalat Delisa, Tere Liye mengulas mengenai seorang gadis cilik yang begitu ceria dan penuh semangat yang harus kehilangan kaki nya kerena bencana tsunami yang menerjang kampung halaman nya Aceh yang tepatnya di Lhok Nga. Delisa, gadis kecil yang memiliki paras indah dengan mata hijaunya harus ikhlas merelakan keluarga yang ia cintai meninggalkan dia ketika tsunami terjadi.
Delisa, demikian tokoh uama dalam novel ini hidup dalam keluarga yang betul betul menerapkan ajaran Islam dalam keseharian mereka. Memiliki Ummi yang selalu memimpin shalat berjamaah ketika Abi nya bekerja di sebuah kapal milik perusahaan asing yang membuat ia hanya bertemu sekali tiga bulan dengan Abi nya. Ummi Salamah menjanjikan sebuah kalung dengan liontin huruf D apabila Delisa berhasil menghafal bacaan shalatnya.
Delisa yang sedang bersemangatnya menghafal bacaan shalat nya untuk dilaporkan kepada gurunya, tapi malang bagi Delisa 24 Desember 2004 ketika ia sedang khusyuk membaca bacaan shalatnya, gempa bumi yang begitu kuat dan diikuti tsunami tak menyurutkan niat nya untuk sempurnya bersujud dihadapan Mu.
Abi Usman yang merupakan ayah Delisa yang mengetahui hal ini bergegas pulang ke Lhok Nga untuk mencari anak dan istrinya. Malangnya, tak satu pun keluarganya yang ditemukan selamat anak dan 3 istrinya meninggal diterjang tsunami, sementara Delisa tidak diketahui keberadaannya. Delisa yang ditemukan oleh seorang tentara AS yang kemudian memeluk agama Islam karena menyaksikan karunia Tuhan bahwa seorang anak kecil yang terdampar selama 6 hari setelah tsunami masih bisa bertahan hidup. Delisa harus kehilangan kaki sebelah kanan nya tapi itu tak menyurutkan semangatnya meskipun pada awalnya Delisa sempat trauma melihat air.
Bersama Abi, Delisa bertahan hidup di tengah puing-puing bekas tsunami. Delisa yang begitu polosnya terlihat begitu mudah melupakan kejadian yang telah merenggut Ummi,kakak,sahabat dan orang-orang yang ia cintai. Hidup berdua dengan Abi nya membuat Delisa lebih cepat dewasa dibandingkan umurnya yang masih 6 tahun. Kehidupan mereka terasa begitu berat tidak ada lagi keluarga yang utuh seperti dulu tapi mereka sudah mengikhlaskan semuanya.
Delisa yang begitu polos dan lugu yang bias menerima kenyataan pahit ketika harus kehilangan orang tua,kakak,sahabat dan orang-orang yang ia kasihi karena tsunami tak pernah berputus asa, ia tetap melanjutkan hidup dengan gaya nya yang begitu menggemaskan. Dan akhirnya ia bisa memahami bahwa Ummi nya tak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Dan ia pun telah melupakan hadiah kalung dari Ummi karena Delisa hanya ingin shalat dengan benar.
Melalui novel ini, Tere Liye hendak memberitahukan sebuah arti kehidupan yang mungkin tak bias kita terima dengan lapang dada. Tapi bagi Delisa, hal itu begitu mudah karena ia mengerti akan arti kehidupan itu sendiri. Maka kita perlu memahami bahwa hidup ini sungguh sederhana, rasa ikhlas,ketulusan hati,terus memperbaiki diri,senantiasa bersyukur akan membuat kita lebih menghargai hidup.

C.      UNSUR INTRINSIK NOVEL
a.    Tema         : Arti sebuah keikhlasan dalam kehidupan
b.    Alur          : Maju
c.    Penokohan :
1.  Delisa    : Gadis kecil yang ceria,lugu,polos,cantik,memilki semangat yang tinggi untuk menjalani hidupnya.
2. Ummi Salamah   : Sosok ibu yang member teladan dan penuh kelembutan.
3. Abi Usman : Ayah Delisa yang selalu setia mendampingi Delisa yang   berjuang menggantikan peran ibu dan kakak bagi Delisa.
4. Fatimah    : Kakak pertama Delisa yang bercita-cita menjadi seorang penyair.
5.  Aisyah dan Zahra : Kembar yang jauh sekali sifat nya, tapi selalu memberikan kejutan  untuk Delisa dan keluarga mereka.
6. Ustad Rahman    : Guru mengaji Delisa yang selalu sabar menghadapi berbagai macam pertanyaan Delisa.
7. Umam dan Tiur : Sahabat Delisa.
d.    Sudut pandang : Orang kedua pelaku utama.
e.    Latar belakan :
  * Waktu : 26 desember 2004.
 * Tempat            : Pantai, Lhok Nga.
 * Suasana           :  Sedih, mengharukan.
f.     Gaya bahasa : Ironi
g.    Amanat : Hadapi lah setiap cobaan dengan ikhlas dan berserah diri pada Tuhan, karena setiap cobaan memiliki hikmah tersendiri tergangtung cara kita menyikapi dan mengambil makna dari kejadian tersebut.        

D.     UNSUR EKSTRINSIK
a.    Latar belakang pengarang : Tere Liye yang dalam bahasa India artinya Untuk Mu.
b.    Sisi agama      : Penanaman nilai-nilai ibadah yang dimulai ketika masih kecil. Dan untuk bisa menerima cobaan dengan lapang dada.
c.    Sisi Moral         : Mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada sesama.
d.    Sisi Sosial         : Saling tolong menolong dalam kehidupan.
e.    Sisi Pendidikan    : Memberikan pelajaran agama,moral,akhlak,social bagi anak dimulai  dari lingkungan keluarga.
f.    Sisi Budaya     : Mempertahankan kebiasaan mengaji di surau.

download.. click here!

0 komentar:

Poskan Komentar